Wisata Sejarah Di Malang

Kota malang adalah kota yang penuh history. Dalam kerajaan – kerajaan besar yang ada di nusantara pernah singgah di malang raya, selain banyaknya ditemukan peningalan sejarah masa lampau malang juga penuh sejarah dalam usaha kemerdekaan indonesia terbukti di kota malang banyak ditemukan peninggalan – peninggalan bekas bangunan belanda yang pernah menjadi keresidenan besar di jawa timur.

Menurut sejarah kota malang sendiri memiliki moto malang nominor sursum moveor pada zaman kolonialisme dan berganti nama yang berdasarkan asal – usul kota malang yang bermoto bernama MALANG KUCECWARA dalam bahasa indonesia yang berarti “tuhan menghancurkan yang bathil”

Dengan kota yang penuh sejarah kita akan membahas wisata sejarah yang ada di kota ini .

1. Museum Brawijaya

Museum yang menyimpan senjata pada masa penjahan hingga kemerdekaan ini menjadi saksi bahwa kota malang pernah menjadi bekas sejarah yang ada di negeri ini. Di museum ini kita menemui sejumlah peralatan perang seperti senjata,tank , gerbong maut, dan peralatan perang lainnya. Untuk mengenai gerbong maut ini merupakan kepedihan bangsa indonesia. Karena gerbong ini pernah menjadi saksi bahwa gerbong ini membawa pribumi dari ujung barat pulau jawa sampai ujung timur pulau jawa dengan kondisi pengab dan tanpa udara para pribumi menahan pediah dan tak jarang pribumi tersebut banyak yang mati karena minimnya udara dalam ruangan tersebut. Gerbong maut ini berjumlah ada 2 yang berada di kota malang dan bondowoso. Selain gerbong maut museum brawijaya juga menyimpan peninggalan saat genjatan senjata agresi militer belanda 2, yang terkenal dengan nama Malang bumi hangus pada perang ini para masyarakat membakar gedung – gedung pemerintahan dan rumah penduduk untuk mengecoh para penjajah.

2. Candi Kidal

Candi kidal merupakan persemayaman dari raja singosari yang bernama Anusopati yang merupakan anak dari raja tunggul ametung bersama kendedes, letak dari candi ini bertempat di desa rejo kidal kecamatan tumpang, kabupaten malang. Candi ini dapat dikatakan merupakan candi pemujaan yang paling tua di Jawa Timur, karena pemerintahan Airlangga (11-12 M) dari Kerajaan Kahuripan dan raja-raja Kerajaan Kediri (12-13 M) hanya meninggalkan Candi Belahan dan Jalatunda yang merupakan petirtaan atau pemandian.

 

3. Museum Malang Tempo Doloe

Selain museum brawijaya, malang juga mempunyai museum yang mengulas tentang sejarah mulai berdirinya malang hingga bupati yang memimpin keresidenan malang untuk lokasi museum ini Beralamat di Jalan Gajah Mada 2 atau belakang balai kota dan bersebelahan dengan Rumah Makan Inggil, restoran berkonsep museum kepunyaan Dwi. Dia memulainya dengan penyelamatan 72 arca yang tercecer di Kota Malang mulai 1996. Arca-arca ini berumur 500 sampai 600 tahun. Pada 1997, ia merancang museum Malang 1.000 tahun. Gagal juga. Lalu, pada 1999 dan 2011, dijalin kerja sama dengan Pusat Perbelanjaan Sarinah. Sempat dibuat 18 ruang, tapi gagal lagi.

Atas seizin pemerintah daerah setempat selaku pemilik, pengurus Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Malang itu merenovasi sebuah rumah kuno seluas 1.000 meter persegi, yang lama terbengkalai, menjadi museum dengan 20 ruang pamer. Kegiatan renovasi dimulai Maret lalu.

Setiap ruang punya tema kesejarahan wilayah Malang. Ruang-ruang itu mencakup tema prasejarah, penggalian data arkeologi, Kerajaan Kanjuruhan, Mataram kuno, Kerajaan Singasari, pertapaan Ken Arok, Kerajaan Majapahit, dan benteng Malang (kini Rumah Sakit Umum Daerah dr Sjaiful Anwar).

Juga ada lorong sejarah berisi foto-foto zaman dulu, galeri wali kota dan Bupati Malang, pendapa Kabupaten Malang, masa pendudukan Jepang, kongres Komite Nasional Indonesia Pusat di Gedung Rakjat (kini pusat perbelanjaan Sarinah) pada 25 Februari sampai 5 Maret 1947, Malang dibumihanguskan pejuang pada 8 Maret 1949, serta peresmian Alun-alun Tugu oleh Presiden Soekarno.

Para pengunjung diperbolehkan berpose atau berfoto bersama barang-barang koleksi itu sehingga terkesan lebih ramah. Penataan yang lebih “gaul” dan “muda” menghilangkan kesan angker, yang biasanya melekat pada museum.